FellowEquality.com

Senja di Padangbai

Sabtu, 02 April 2011

0 komentar


Sekian terobang-ambing bentangan samodra

Mata terbawa cakrawala yang semakin jauh

ombak tak bersahabat lagi dengan dinding kapal

Hati terasa ingin segera menjamah rindu

~

Dalam perjalanan merasa jiwa ini

Harapan cepat memeluk dermaga

segera kapal mengarah dan merapat

keraguan hilang saat terpa gelombang

~

Padangabai, dermaga timur bali

disana senja menunggu dengan riang

Bersama merapat kapal melempar jangkar

Hati berbunga segera berjumpa dambaan

~

Lambai tangan menyibak senja semakin nyata

Saat kaki menapak menurni tangga

Ditepi rindu talah lama menanti

Senja padangbai mengilangkan segala

terima kasih bersama senja menjemput



Prahara Senja

0 komentar

senja…

tak menampakkan semburat keemasan

romantika tergulung awan kelam

gejolak cemburu membelenggu dendam

pipi merah berseri teriris meredup

~

senja kini…

garis batas malam hilang seketika

tersaput kabut yang kian runtuh

senja, sebagai titian keheningan

pupus terbungkus rintik mandi bumi



Rindu

Kamis, 31 Maret 2011

0 komentar









I
Awal syair bismillah dulu,
kepada Ilahi terasa malu,
atas lidah yang kadang kelu,
untuk berzikir dimalam dalu.

Dalam dunia yang beraneka,
banyak pula makhluk bertingkah,
yang Allah benci dan Allah suka,
yang tersembunyi atau terbuka.

Satu bagian yang rahasia,
rindu dendam pada manusia,
tak pandang waktu serta usia,
tak pandang berguna atau sia-sia.

II
Yang paling banyak orang berfikir,
karena asmara rindu mengalir,
seperti pemahat dan kayu ukir,
ataupun pisau dengan kikir.

Paling terkenal rindu remaja,
ingat kekasih merona wajah,
peduli rakyat ataupun raja,
ya…semuanya sama saja.

Dikala rindu pada kekasih,i
ngin bertemu tak pernah risih,
walau nantinya kan berselisih,
yang penting diri tidak tersisih.

III
Lain pula rindu sahabat,
ingin bergurau sambil berdebat,
saling berlomba tunjukkan hebat,
peduli rakyat atau pejabat.

Rindu sahabat terbagi dua,
sahabat baik membawa berkah,
sahabat buruk bikin celaka,
malangnya lagi?…ajak ke neraka.

Sahabat baik selalu menjaga,
terhadap kita jiwa dan raga,
serta berikan ilmu berharga,
agar bersama masuk ke surga.

IV
Berbeda pula rindukan kampung,
terbayang indah lembah dan gunung,
sejuknya mandi pancuran tampung,
serta indah kicauan burung.

Teringat pula ke masa kecil,
nenek cerita tentang sang kancil,
ataupun sahabat yang suka mbangkil,
juga bermain tempat terpencil.

Teringat juga jagoan kampung,
kalau berjalan dada membusung,
merasa hebat karena terkungkung,
seperti katak dalam tempurung.

V
Sangat berbeda rindu ibunda,
terhujam dalam didalam dada,
perduli tua ataupun muda,
diseluruh dunia tiada berbeda.

Rindu ibunda tiada berakhir,
di dalam kitab sudah diukir,
walaupun kaya ataupun fakir,
sampai lidah berhenti berzikir.

Rindu ibunda tak pernah layu,
walaupun matanya sudah sayu,
walau dipaksa atau dirayu ,
walau disalib ditiang kayu.

VI
Kalaulah orang rindukan kaya,
segala cara segala gaya,
supaya tampak hidupnya jaya,
walaupun semuanya cuma maya.

Pulang kampung mobilnya mahal,
tak tahu orang kalau merental,
tampaknya alim walaupun nakal,
Walaupun pelit berpura royal.

Kata-katanya tinggi selangit,
tak mau tinggi orang sedikit,
yang lain sukses dia yang sakit,
hebat bualnya setinggi bukit.

VII
Begitu pula rindu negara,
rela berjuang semangat membara,
bahu-membahu dengan tentara,
menghalau musuh bela bendera.

Rindu negara harus berbakti,
tidak korupsi harus terbukti,
rakyat yang lemah jangan sakiti,
naik jabatan benar dititi.

Itulah bentuk rindu negara,
rela berkorban walau berdarah,
bukannya cuma berhura-hura,
atau menghasut terjadi sara.

VIII
Berbeda pula rindunya anak,
tahunya diberi apa dihendak,
tak dikabulkan kadang membentak,
….masya Allah!dimana kau punya otak!

Rindunya anak berat sebelah,
tak mau dimarah kalau bersalah,
pada saudara tak mau mengalah,
kalau bertengkar minta dibela.

Rindunya anak akan menggumpal,
kala orangtua meninggal,
tak bisa bakti bikin menyesal,
menangis ia merungkal-rungkal.

IX
Hebat pula rindu jabatan,
berbagai cara dan perbuatan,
sampai meminta bantuan syaitan,
masya Allah…sungguh kelewatan!

Kalaulah memang punya prestasi,
memang jabatan haknya diri,
tapi kalau tak tahu ukuran diri,
pasti menjilat kanan dan kiri.

Kalau jabatan sudah didapat,
gayanya tentu berubah cepat,
yang berprestasi terbukti hebat,
yang tak mampu sibuk menjilat.

X
Lihatlah pula yang rindu barang,
segala yang antik akan dipajang,
kalau cerita kepada orang,
pasti matanya bersinar terang.

Barang lama banyak dikumpul,
yang sudah rusak juga didempul,
bahkan sampai cari jin gundul,
angkat pusaka supaya muncul.

Dikumpul semua barang antik,
baik yang jelek atau yang cantik,
jadilah rumah seperti butik,
atau suasananya menjadi mistik.

XI
Ada pula yang rindu ilmu,
hasil membaca kan dia ramu,
selalu ilmiah kalau bertemu,
Ah…yang bener aja kamu!!!

Orang ilmiah kadang berbangga,
padahal Allah tiada terhingga,
ilmunya hebat tak bisa diduga,
meliputi neraka sampai ke surga.

Orang berilmu kan rendah hati,
berkata baik dan hati-hati,
bagaikan pepatah ilmu padi,
semakin runduk semakin berisi.

XII
Berbeda pula yang rindu janda,
selalu bolak balik di beranda,
oleh-olehnya bermacam benda,
sebagai isyarat atau pertanda.

Masih banyak macamnya rindu,
kalau diurai bisa sewindu,
tapi karena mau beradu,
syairnya disambung setelah wudhu.

inilah rindu kepada Allah,
ibadah zikir tak pernah lelah,
dipuji mengucap Subhanallah,
diberi mengucap Alhamdulillah,
ketika mati sebut LA ILAHA ILALLAH.

XIII
Termahsyur sudah sepanjang zaman,
harumnya bagai bunga ditaman,
sampai di kitab Allah berfirman,
hamba yang rindu karena iman.

Karena rindu ia berperang,
rela patuhi apa dilarang,
kerjakan perintah dengan riang.
ibadah khusuk gelap dan terang.

Sungguh indah rindu Ilahi,
terasa lezat sepanjang hari,
semerbak baunya harum mewangi,
bawa bahagia yang kan abadi.

XIV
Rindu Ilahi tiada terukur,
terhadap nikmat selalu bersyukur,
terhadap alam ia bertafakkur,
bersujud si hamba jatuh tersungkur.

Orang yang rindu selalu teringat,
ingin bertemu setiap saat,
tak pernah lalai tak mau telat,
sampai el-maut datang mencegat.

Baca surat-Nya mata mengalir,
ucap asma-Nya hati berdesir,
dengan tanda-Nya selalu berfikir,
hanya pada-Nya rindu terukir.

XV
Lalai pada-Mu hati gelisah,
langgar perintah-Mu jiwapun susah,
dengan rahmat-Mu tak putus asa,
rindu pada-Mu sepanjang masa.

Wahai Ilahi tujuan hamba,
pada-Mu jua hamba menghiba,
kuatkan hamba dalam musibah,
Rindu pada-Mu tidak berubah.

Hamba bermohon sepenuh hati,
rindu pada-Mu sampai ke mati,
susah dan senang ikhlas dititi,
sampai datangnya hari yang pasti.

XVI
Terhadap hidup kadang gelisah,
dapat musibah berkeluh kesah,
kadang dihati terasa resah,
ingat pada-Mu tenanglah rasa.

Wahai Ilahi dengarlah ratap,
hanya ridho-Mu selalu kuharap,
menangis hamba dimalam senyap,
bermohon iman selalu tetap.

Hamba memohon diberi umur,
selalu hidup dalam bersyukur,
terhadap nikmat tiada kufur,
sampai menghadap kelak dikubur

XVII
Rindu Ilahi berbalas pasti,
asal perintah larangan dititi,
bagaikan siang malam berganti,
sampai bertemu diakhir nanti.

Betapa dangkal rindu manusia,
terbatas ia pada usia,
walau jumlahnya sampai selaksa,
ketika mati akan binasa.

Demikian pula rindukan harta,
belumlah mati kadang disita,
atau diwarisi keluarga tercinta,
atau dicuri dimalam buta.

XVIII
Rindu jabatan akan berakhir,
belumlah mati sudah diafkir,
atau berganti karena digilir,
bisa juga karena jabatan dipelintir.

Walaupun jabatan tiada cacat,
kalau pensiun semua dibabat,
kendaraan bagus ditarik surat,
kalau tak siap bisa melarat.

Rindu Ilahi tidak berkarat,
amal dibuat tidaklah berat,
berbalas ia ganjaran kuat,
baik di dunia atau akherat.

XIX
Rindu yang tulus membuat haru,
seperti nenek rindukan cucu,
seperti murid rindukan guru,
yang tiada pamrih atau cemburu.

Guru yang baik akan dikenang,
mendidik murid menjadi bintang,
sekolahnya selalu gilang-gemilang,
prestasi hidupnya akan cemerlang.

Rindunya nenek bersifat sabar,
usia yang tua membuat sadar,
cucu dididik agar berpendar,
doanya tulus bagaikan radar.

XX
Ada pula rindu terlarang,
dibalut nafsu menjadi garang,
tak mau dengar nasehat orang,
walau berakhir patah arang.

Ada juga rindu berlabuh,
hanya dirindu hangatnya tubuh,
berakhir setelah datangnya subuh,
kena penyakit mengaduh-aduh.

Rindukan benda kan sementara,
bagaikan minyak menyiram bara,
apinya sebentar merah membara,
tinggallah sesal dan duka lara.

XXI
Para sahabat mari merenung,
tengoklah rindu bangsa burung,
mata terlepas badan terkurung,
jiwa tersiksa badan terkungkung.

Rindu yang indah karena memberi,
rajin berkorban sifatnya diri,
memberi dari milik sendiri,
mendapat hormat siapapun dari.

Janganlah diri jadi terlena,
karena rindu dendam tak sudah,
karena hidup berakhir fana,
akan dibalas kita karena.

XXII
Ada yang rindukan masa lalu,
selalu banggakan kisah dahulu,
kadang cerita sampai dalu,
sampai lidahpun menjadi kelu.

Ada pula rindu merusak,
ketawa sendiri sampai ngakak,
kemana-mana membawa kotak,
memang miring ia punya otak.

Begitu juga rindu merpati,
tak akan berubah sampai mati,
susah senang sama dititi,
seiring sejalan sepenuh hati.

XXIII
Dengarkan pula rindu tak sampai,
merana badan lemah terkulai,
makan tak enak walau bergulai,
serasa nyawa habis terurai.

Macam-macam jenisnya rindu,
ada yang berakhir sepahit empedu,
atau rasanya asam bagai mengkudu,
ataupun bermusuh bak kambing adu.

Kadang manusia terpesona,
lupakan bahwa dunia fana,
merasa pasti dengan rencana,
padahal semua fatamorgana.

XXIV
Rindu politik bentuknya dua,
ada yang baik yang buruk juga,
yang baik bikin rakyat bahagia,
yang jelek bikin rakyat menderita.

Rindu kursi banyak cobaan,
kalaulah dapat membahagiakan,
kalau tak dapat menyengsarakan,
anak dan istri ikut tertekan.

Begitu juga dalam pilkada,
rindu jadi pimpinan daerah,
bujuk dan rayu melimpah-limpah,
tapi buktinya?hampir tak ada.

XXV
Rindu Rasul rindukan sunnah,
berteladan kita oleh karena,
supaya agama jadi sempurna,
jadilah diri mukmin paripurna.

Betapa hamba rindukan rasul,
nabi terakhir yang pernah muncul,
membawa umat ke jalan betul,
inilah jalan yang pasti maqbul.

Kepada Rasul hamba meminta,
safaat dikala gelap gulita,
mendapat surga memang dicita,
serta ridhonya Allah semata.

Diakhir syair kumohon maaf,
bukan tak rindu pada sahabat,
jasad ringkihku merasa penat,
bermohon diri tuk istirahat.

Al Faqir

Hamdi akhsan.

Sumber : http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/03/31/rindu/

tuk penyuka senja

Rabu, 30 Maret 2011

0 komentar

turunkan tanganmu dari kisaran senja

atau merenung musnah senja

senja kan kembali setelah menelan malam

***

kucari cara cari

0 komentar

ini tah mukamu

ini tah mukaku

ini tah,

ini tah

ini tah mukamu

mukamu ini tah

malaekatku

0 komentar

hai malaekat, kau teriak hanya meracuni diri

kebas sayapmu tak mampu menstilir arah hati

penggal lehermu dan pandang penghuni dada

pujangga aku pujangga

sedang pujangga lelah sandang pujangga

kau tutup wajah dengan muka malaekat

Tersesat

0 komentar

kenapa aku teresat disudut hatimu

saat mawarmu ada digenggamnya

betapa terjal tabir kulalui saat itu

hingga layu mawarmu lepas dari tangany






ilustrasi :
http://2.bp.blogspot.com/

asa asap

0 komentar

lukisan abstrak terbentuk

seakan mengeja impian

dupa mulutnya mengangkasa

bersama sayap jiwa

menguap kata tinggalkan raga

darah api

0 komentar

1

darah api mengoyak nadi mengembara

kuduk tergetar mengulir dinginnya pori

nampak merentang mengumbar mesra

antara yang mengalirkan aku ke bumi,

dengan kepingan kasih abadi yang terikrar

2

dari balik dinding bening nyata terlukis

jelas mataku memuat sketsa dansa itu

saat geliat desis seraya cahya lentera

3

peristiwa mendidih menjadi gumpal

kobar menoreh garis persamaan rasa

korban atasku bukan siapa kesasar

cairan merah yang sama dari jalan berbeda

terengkuh satu saling menabur

haram menutup jalan simpang panjang

membuta pepat benderang realita

Taragedi Vilaga

Minggu, 27 Maret 2011

0 komentar

goncangan dada mengiringi langkahnya…

saling hina dan memuja awal pertama

kata saling terucap dan janji saling ungkap

hingga peluk mesra tak tertahankan

disini cinta bersemi menyatu dingin

*

waktu begitu terasa cepat mengubah saat

malam tiba diringi dayang teriring embun

hembus nafas tak terbendung meneyelimut

kasih dipadu menambah hening suasana

udara hidung semakin mengencang

gerakan kian gebu berdenyutan

**

panas diang dalam kamar tak bersahabat

dingin bertabah memperparah suasana

semakin kuat pelukan tak terelak juga

**

bibir gemetar tangan memeluk dada

malam semakim mendekat batas akhirnya

mata menetes bersama embun diluar sana

berharap tragedi ini hanya sampai di sini

Angan Terbawa Angin

0 komentar
tubuh lepas dari pandang, melesat

kornea hanya mampu menjamah kelebat

……..

angan masih bisa melukis bayangan

yang tak sempat tersimpan

……..

raga selamanya mengarang

terlipat kulit usang merontang

……..

mungkin lekuk sintal tiada lagi

purna dari sutra yang hakiki

……..

layu terbawa desir jejak ingatan

enyahkan dari segala angan


http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/03/21/angan-terbawa-angin/

Tanyaku Dalam Lamunan

0 komentar

Kenapa ?

asap mengepul membawa sebuah wajah

nyata bersam diamku

masih cantik

Benarkah ?

di sana seperti di sini

slalu mengingat rintang-rintang

ketika melepas rindu

Ada apa ?

mungkin hati sudah terbelah

menjadi dua keping

tiada tanya, tiada jawab

dari rinduku dibawa angin

kesebelah barat sana

kuhalau kepulan asap

ah….

kenapa asap ini masih ada

membawa wajah cantik

hanya sebuah tanya tanpa arti

http://ranggila.wordpress.com/2010/12/26/tanyaku-dalam-lamunan/

Di Hamparan Malam

0 komentar
dua pasang sinar mata dalam gelap

hanya terdengar bisik rerumputan

tangan nakal menggelincang dada

dinginnya embun menemaram malam

bibir terlumat mengecap desah

menuang liur haus bertautan

*

bulan terutup awan disepanjang ronta

rumput tergilas dalam perhelatan

sesesaat rintih dan terdiam

tak ada saling janji, terberi…

hanya selembar tisu pengusap keringat

sebagai pengganti gincu bedak dan aroma

yang tergerus gairah gelap malam

**

nafas hitam, malam hitam, awan hitam

sehitam bulan tertutup awan temaram

saksi ajang badar nafas-nafas penjaja

pemuas memerah putih air dosa malam

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

kanabar sabiti : 25.03.2011

http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/03/25/di-hamparan-malam/

Manusia Gila (:ref)

0 komentar

tak ada malam untuk memberingas

malam itu siang yang semakin ganas bertualang

bagi manusia gila mengejar yang takkan lari

haus akan comberan timang ludah pujian

~~

dengus anyir nafas memburu teror

nyanyian sumbang diri tertawa menggema

menyengat tenggorokan hilang dalam gelap

ibarat mata tak mampu menangkap pekat malam

( bailt ke-2 ide dari Edy Priyatna dan Des_yach )


http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/03/26/manusia-gila-ref/

Andai Sampai Usiaku

0 komentar

setiap saat aku panggil namamu, sayang

aku tak pernah merasa memberikan sayang pada orang lain

tapi sayang, sayang sekarang menjadi milik mereka

aku percaya sayang tak selamanya untuk mereka

sayang kau masih sayang kan ?

ketahuilah sayang

andai sampai usiaku

mulutku sudah tak mampu menyebut namamu lagi

kau tetap sayang nama yang tlah menjadi dipigura hati

~

kanabar sabiti : 25.03.2011

Nafasku Tinggal Sejengkal

0 komentar

kuhitung nafasku tinggal sejengkal

itu saja kelingking sudah terpotong

cukupkah jalanku mendaki langit sana

menghirup kesturi di samping bidadari


kuhitung nafasku hilang sejengakal

dimana ini, mataku masih melihat terang

dari malamnya bulan dan siangnya matahari

ternyata jalan masih membentang tak cukup bekal doa


http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2011/03/25/nafasku-tinggal-sejengkal/

InspireMarrow.com

Copyright © 2011 dorombolo96 | Splashy Free Blogger Templates with Background Images, Trucks